Wednesday, January 22, 2014

Genius Minor In Colorado

          Seringkali kita berpikir, apa yang menyebabkan dunia ini bertindak, dengan mekanisme seperti apa kita bekerja ? Apa kita diperintah oleh satu kesatuan, lalu kemudian kita berbagi energi ?

          Belum ada jawaban pasti mengenai hal ini, namun setidaknya dunia bekerja oleh karena manusialah yang bekerja. Dunia berkembang karena manusianya lah yang mengerjakannya. Dalam teori Ekonomi, orang sering berbicara tentang teori 80/20. Yaitu suatu kejadian dimana 80% pekerjaan hanya dikerjakan oleh 20% orang saja. Contoh, dalam suatu organisasi, langkah kerja, program kerja, strategi juang organisasi, sesungguhnya hanya dikerjakan oleh segelintir orang saja. Begitupun dengan banyak kasus yang sering kita amati di sekitar lingkungan kita. Barangkali, kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa dunia betul-betul mengikuti arus yang sedang terjadi, seperti pembunuhan, perampokan, kecelakaan lalu-lintas, korupsi, dan kita mempersepsikan bahwa segala sesuatu telah mengarah pada satu titik: Kejahatan. Tapi sesungguhnya tidak sama sekali. Hanya beberapa orang saja yang bekerja, dan mau beraktifitas semacam itu yang tentu saja bukan saya dan anda.

           Orang-orang semacam inilah yang sesungguhnya bekerja untuk dunia, mereka menggerakkan dunia. Mereka bukanlah orang-orang biasa. Mereka adalah orang-orang dengan semangat luar biasa, berusaha menyebarkan ide-ide dan inovasi baru, serta ideologi untuk dunia. Inilah yang menjadi duduk masalahnya, munculnya para Jenius Minor yang tak kita sadari.

          Entah dengan cara apa, mereka memiliki dan dengan mudah meraih semangat menyebarkan virus epidemi yang bisa berupa gagasan, inovasi, perilaku, ide, pesan, bahkan ideologi itu sendiri. Namun orang-orang ini bersedia mengubah dunia. Pernah dalam suatu kasus di Colorado, amerika serikat, di sebuah wilayah dalam kota itu terserang oleh penyakit Gonorhea yang telah menjangkiti hampir 160.000 jiwa di kota itu dan yang paling mengejutkan adalah, para penyebar virus itu hanya berjumlah 168 orang saja. Orang-orang dengan penyakit kelamin parah, yang sering keluyuran siang-malam hanya untuk melakukan hubungan sex. Apakah mereka memiliki niat jahat ? Tidak. Mereka hanya warga biasa yang memiliki kebiasaan di luar kebiasaan kita.

         Maka dari itu, sesungguhnya kitapun mampu mengubah dunia ini sedikit menjadi lebih baik, tidak sulit, asal di sebarkan ditempat yang tepat, dengan sedikit dorongan ringan dari usaha, serta ideology yang kita bawa, akhirnya kita menyadari, bahwa dunia ini masih sedikit menyimpan senyuman.


Semoga manfaat :)
Find me on twitter @Iman_rk :D

Saturday, January 11, 2014

Pujian Malaikat

            Pernah merasa dihina ketika mulai serius mendakwahkan Islam, atau, pernah merasa dikucilkan ketika mulai mengamalkan Islam ? Bagi pendakwah Islam, 98%nya pernah merasakan hal disebutkan diatas. Dengan kata lain, anda tidak sendiri. Secara pribadi, sayapun sering mendapat cibiran, hinaan, dikucilkan, bahkan dijauhi oleh kerabat karib yang dulu notabenenya kami ‘bareng’ ketika jahilliyah.

                Tidak hanya itu, konseskuensi karena memperjuangkan Islam dirasakan pula oleh saya yang hidup dalam keluarga yang bukan keturunan ‘ustadz’. Pernah dulu, ketika SMA, baru satu hari mengikuti kegiatan Islam, ayah saya hampir ingin mengusir saya, dan para tetangga mencurigai saya sebagai teroris. Alamak, sorry, ini bukan curcol, tapi kenyataan. (Nah lho, apa bedanya? :D)

                Seringkali dalam kisah para pengemban dakwah Islam, apalagi para pemula, merasakan hal ini. Sehingga banyak di antara mereka yang memilih untuk mundur karena takut akan ancaman dan tekanan dari dalam keluarga maupun lingkungan tempat ia bergaul. Saya katakan, “sayang sekali, sungguh sangat disayangkan”. Kenapa ? Sebab, beginilah harusnya jalan Cinta Para Pejuang. Menjadikan tekanan dan hinaan bahkan siksaan fisik sebagai jalan hidup mereka. Mereka sadar bahwa jalan ini tidaklah mudah, akan banyak rintangan dan tantangan dari manusia yang sinis akan Islam. Maka segala cara dan upaya mereka kerahkan untuk menghentikan langkah mulia para pengemban dakwah.

                Namun, bagi yang meyakini bahwa jalan ini adalah jalan para Nabi, dan juga jalannya Rasulullah saw dan para sahabat yang menyertainya, ia merasa bahwa dunia ini tiada berarti ! Allah telah menjaminnya dengan menggantikan semua lelahnya ketika di dunia dengan surga !

                Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil dan Alquran…”
[At-Taubah (9): 111]

                Yang meyakini bahwa ini adalah “Jual-Beli dengan Rabbnya” maka ia anggap semua cacian, sindiran, hinaan, dan perkataan manusia sebagai Pujian Malaikat !

Sebab ia meyakini dengan pasti “apaguna perkataan manusia ?!”

Your Brother, @Iman_rk

Agama = dalil bukan akal !

      Beberapa hari terakhir saya sedang sedikit berpikir dan merenung tentang beberapa hal yang tengah muncul di tengah-tengah kaum muslimin. Bukan untuk men-judge dan menuding, apalagi mengkritik, tulisan ini saya dedikasikan untuk bahan perenungan semata. Bila kiranya ada pelajaran yang bisa diambil silahkan, bila tidak ada mohon di abaikan.

     Jengkel sekaligus geli rasanya, muncul beberapa tokoh yang mendedikasikan diri untuk berdakwah namun argument serta alasan bertindaknya hanya sebatas akal dan pendapat umum, bukan dalil. Alquran dan sunnah. Juga baru-baru ini, muncul di YouTube, seorang pendakwah yang merasionalisasikan lagu Noah “separuh aku”  kemudian disandingkan dan dicari pembenarannya melalui Alquran. Capee deh !

                Entah apapun alasan orang itu beretorika, berbicara, dan berbuat, meski logika dan akalnya telah mencapai dalam tataran rasio, namun bila itu minus dalil tetap saja salah !

                Juga aneh, ada yang berkata bahwa Homo Seksual, Trans-Gender, dan penyakit kaum Luth as lainnya dibenarkan oleh orang-orang yang cuman bisa makek akal bukan dalil. Katanya, “Ah, gak apa-apa itu ‘kan hak dia. Lagipula, cobalah memahami segala sesuatu dengan akal sehat.” Ng ? Akal sehat ? Saya rasa, yang ngomong barusan akalnya sedang sakit. Lha iya, masa cowok sama cowok berhubungan badan ? Gak normal kaliii, Allah udah captain kita berpasang-pasangan supaya tumbuh rasa kasih sayang dan rahmat Allah senantiasa hadir, eh malah sukanya “jeruk makan jeruk”.

                Dan juga, yang sering berkata “kata ustadz saya”, “kata dewan syuro saya” dan kata-kata lainnya yang minus dalil, merupakan tindakan dan bagian daripada sikap malas. Dan saya rasa tulisan ini juga akan segera mendapat komentar pedas dari mereka yang mengaku cemerlang akalnya dengan kata-kata “udah, sesama muslim ga usah saling menghujat. Ini strategi Yahudi dan bla…bla..bla…”

                Terakhir, yang paling membuat saya  greget adalah tentang pejuang dakwah atau bahkan yang tidak, tetapi mereka ini membolehkan Demokrasi untuk terus diterapkan dalam sistem kehidupan. Mereka membenarkan semua yang dilakukan oleh demokrasi, sekali lagi, dengan AKAL !
“wajarlah mas, kita ini masih dalam proses pembelajaran demokrasi, nggak ada yang sempurna, kita masih proses belajar alias dalam masa transisi.” (belajar sih belajar, tapi ini mah belajar terus! demokrasi gagal, ancur dipertahanin, padahal kalo Islam salah dikit aja pasti protesnya dari pagi ampe malem)

            Padahal imam Ali sudah mengingatkan kepada kita bahwa pembentuk persepsi adalah dalil bukan akal:
لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ
“Seandainya agama itu dengan akal niscaya yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah khuf daripada bagian atasnya” (HR. Abu Dawud)

Semoga persepsi pembaca dalam menilai tulisan saya ini dengan dalil, bukan dengan akal (lagi), dan mudah-
mudahan menjadi bagian daripada solusi hehehe. Damai selalu all :)

@Iman_rk on twitter for more

 

© 2013 Be a Ghazi. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top