Tuesday, May 6, 2014

Izumi #8



Plek!

Hiruta menutup bukunya. Membuat suara aneh keluar dari dalam buku yang bersampul keras itu. Kurasa sudah cukup, mataku tak sanggup lagi. Batinnya.

Ia mengangkat bukunya dan meletakkannya di sudut kiri meja dan menggeser buku-buku kecil lain kemudian menyimpan buku itu dalam susunan yang paling bawah, mengingat buku itu memang besar dan lebar. Hiruta melompat bangkit, kemudian mendorong maju kursinya. Merapikan sedikit buku-buku yang terlihat bergeser dari tempat semula.

Hiruta menuruni tangga, ia memiringkan kepala ke arah samping tangga untuk memperhatikan jam dinding yang sama tinggi dengan posisi ia berdiri pada saat itu. Parah, sudah pukul 02.42 menit. Sebentar lagi akan jam 03.00. Kalau tak bisa bangun subuh, barangkali Kak Inari menyiramku seperti biasa. Keluhnya sambil berdecak pelan. Bunyi bedebam kecil saat langkah kakinya menuruni tangga membuat Ayahnya tersadar dan terbangun dari tempat tidur. Insting pelindung laki-laki memang peka.

“Mau apa tengah malam begini Hiruta-kun?” Tanya Tuan Kazuhiko yang baru saja keluar kamar akibat getaran langkah kaki Hiruta.
Moushi wake arimasen, otou-san – Maaf, Ayah.” Kata Hiruta yang barusaja terhentak karena terkejut Ayahnya menegur dari bawah. “Aku ingin turun untuk berwudhu.” Lanjut Hiruta singkat dan menuju area khusus dalam rumah untuk pengambilan air wudhu yang memang terhubung dengan ruang shalat.
“Pukul segini? Kamu berwudhu karena hendak tidur atau untuk tahajjud?” Tanya Ayahnya keheranan.
Hiruta terdiam.
“Hiruta-kun, jawab Aku.” Panggil Ayahnya untuk memastikan.
“He… Hendak tidur, Ayah.” Hiruta tertunduk, tidak berani menatap wajah Ayahnya. Ia menjawab dengan suara pelan dan terbata-bata.
“Ck!” Ayahnya berdecak keras. Lalu menutup pintu dan kembali tidur.

Untuk kesekian kalinya, Hiruta mendapat teguran dari Ayahnya karena begadang terlalu lama. Bagi Ayahnya, tak peduli apakah Hiruta membaca buku atau sedang melakukan ativitas yang lain. Sebab, sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga ini bila sudah lewat dari pukul 22.00, maka kewajiban selanjutnya adalah tidur. Sebab, bila melebihi waktu yang ditentukan maka saat shubuh akan sulit untuk dibangunkan. Ayah Hiruta betul-betul memahami.

Hiruta merasa lain malam itu. Justru penyesalan akan kebiasaan begadang hingga larut malam tidak seberapa bila dibandingkan dengan penyesalan saat ia melihat wajah Ayahnya yang entah berapa kali kecewa melihat Hiruta harus melanggar aturan rumah. Ya, ia tahu, bahwa satu jam lagi akan dilaksanakan shalat shubuh dan Hiruta akan menyanggupi dan memaksakan diri untuk bangun, namun Ayahnya jauh lebih khwatir pada kondisi kesehatannya.

Dulu, saat Hiruta masih kelas satu SMA. Hiruta pernah mengalami pusing dan tiba-tiba pingsan disekolah, dan faktor utamanya adalah darah Hiruta menurun drastis akibat begadang. Lalu orangtua siswa dipanggil untuk menghadap lalu diberitahu apa yang menyebabkan Hiruta tiba-tiba pingsan. Dan saat itu wajah Ayah sangat berbeda, panik, marah, kecewa, sedih, melihat Hiruta. Meski efek yang ditimbulkan tidak seberapa, namun rasa sayang Ayah pada Hiruta meruntuhkan logika Hiruta yang masih dapat menyanggah akan aturan tidur tepat waktu.

Hiruta berjalan terhuyung ke lokasi tempat pengambilan air wudhu yang bersebelahan dengan ruang shalat.

Hiruta kembali ke kamar, berdzikir lalu kemudian memejamkan mata. Mati untuk sesaat dan berharap bertemu dengan kekasih tercinta, kekasih seluruh kaum mukmin dan kekasih Allah. 

Muhammad saw…

@Iman_rk

Izumi #7



Sudah empat jam lebih. Ia masih duduk disana dengan punggung yang tak berubah, masih tetap tegak sebagaimana biasanya. Ia menyapu huruf demi huruf dan tulisan demi tulisan, tak ia hiraukan berapa lama lagi waktu akan berlalu, meskipun sudah ketiga kalinya kepalanya jatuh karena harus berperang dengan rasa kantuk. Tapi ia harus menahannya. Beberapa lembar lagi… beberapa lembar lagi…

Kisah sejarah dan penaklukan serta cerita Heroic adalah buku yang paling membuat Hiruta jatuh cinta. Dalam kamarnya, ia mengoleksi buku yang memuat kisah perang dan penaklukan hingga puluhan. Mungkin  sekitar 42 buku. Pahlawan serta ksatria Islam seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Khalid Bin Walid, Umar bin Khattab, Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih dan sebagainya. Juga legenda sejarah penakluk Jepang, para samurai  dan beberapa tokohnya yang legendaris seperti Nobunaga Oda, Tokugawa Ieyasu, Miyamoto Mushasi dan juga Taira no Masakado sampai Toyotomi Hideyoshi.


Letak meja diatasnya disambung dengan rak-rak buku memudahkan Hiruta meraih buku-bukunya. Meja yang berukuran dengan panjang sekitar 50 cm dan lebar sekitar 1 meter. Ukuran yang sesuai untuk meletakkan buku dan berhadap-hadapan dengan wajah haus Hiruta yang siap meminum apapun tulisan yang ada didepannya. Posisi meja yang sebelah kanannya berdempetan dengan tembok, memudahkan Hiruta untuk meletakkan gambar dan fotonya ketika ia masih kecil. Didalam foto itu ada anak laki-laki yang berambut acak-acakan dengan senyum yang menunjukkan seri yang pada saat itu telah tanggal sekitar 2 biji dari gusi, tidak lain adalah Hiruta sendiri. Lalu disamping kiri Hiruta ada seorang wanita cantik dengan balutan kain berwarna hijau lumut yang menutup kepala, tentu saja Kak Inari serta satu laki-laki remaja yang saat ini masih berada diluar negeri.

Sesekali, ketika Hiruta meletakkan bukunya untuk dibaca lagi esok harinya, Hiruta tetap menyempatkan diri untuk menatap dan tersenyum melihat gambar dalam foto itu. Dengan mata yang berbinar-binar, ia menekan gambar dalam foto itu dengan jempol dan mengusapnya perlahan ke atas dan kebawah. Membuat ia semakin belajar dengan keras dan lebih giat lagi, tatkala ia menatap wajah anak lelaki remaja yang ada dalam foto itu. Laki-laki yang Hiruta rasa sebagai dinding yang harus ia lewati. Laki-laki itu sekarang sudah dewasa, melanjutkan studinya ke luar Negeri, membuat bangga Ayah dan Ibu serta semua keluarga. Hiruta ingin sekali beretemu dengannya lagi, memintanya bercerita tentang Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstatinopel. Bagi Hiruta, gaya khas ketika laki-laki itu bercerita membuat Hiruta merasa ada dalam cerita itu. Meskipun sudah berkali-kali diceritakan namun Hiruta memintanya lagi dan lagi. Lalu, laki-laki itu akan menceritakannaya pula dengan senang hati dan dengan sukacita.

Namun laki-laki itu sudah berpisah dengannya selama empat tahun. Ia pergi dengan senyuman yang meyakinkan bahwa ia akan pulang dengan nilai yang bagus dan akan bekerja di Jepang sebagai dokter ahli bedah. Hiruta saat itu hanya bisa mengantarnya sampai bandara saja.

“Apapun yang terjadi, Islam ada dalam genggamanmu brother. Jangan pernah takut bersaing karena kita adalah umat terbaik. Bismillah.” Sambil mengacak rambut Hiruta, itulah pesan terakhir yang disampaikan oleh laki-laki itu pada Hiruta saat berpisah. Kalimat yang tak terlupakan, sebab itu bukan hanya pesan motivasi laki-laki itu. Namun, itu adalah pesan abadi yang dikutip dari dalam Alquran.

“Kamu adalah Umat terbaik yang diutus ketengah-tengah manusia
Menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar
Dan beriman pada Allah”[Ali-Imran: 110]

Semoga suka :) @Iman_rk

Wednesday, April 30, 2014

Harapan

                Kau yang disana yang tak belum mengerti apa itu harapan. Kemarilah, mari kita duduk berdua, aku duduk disebelah kanan sedang kau duduk disebelah kiri, biar aku jelaskan padamu seraya menatap langit hitam nan pekat. Bersama bintang, bersama awan. Tidak… tidak… jangan khawatir! Tidak mengerikan seperti yang ada dalam benakmu, aku akan menjelaskannya sambil merangkul tubuhmu yang kurasa mulai menggigil, kemarilah. Biar aku jelaskan.

                Menurutmu, bagaimana caranya kita berharap? Kau tak tahu? Baik, tak usah manyun. Tersenyumlah. Nah, begitu.

                Kita yang terlahir sebagai manusia, punya satu dimensi yang dimana menurutku memiliki ruang khusus untuk kemudian kita masuk didalamnya, kadang dalam keadaan sedih, kadang dalam keadaan bahagia. Dan dalam ruang itu, kita seolah terhubung dengan apa yang kita harapkan. Terasa dekat. 

Ia mampu menyentuh relung jiwa yang lama gersang karena kerasnya dunia.

                Namun, ku beritahu kau, disana taka da siapa-siapa. Jangan takut. Hanya ada kamu dan  harapanmu, dan bila kau sudah masuk didalamnya, bermainlah dengannya sepuas hati. Berbicaralah padanya dengan suara keras atau getar lirih. Tapi, menurutku, lebih baik kau bersimpuh lirih, karena akan menambah keromantisan kedekatan kalian. Aku juga pernah begitu.

                Harapan. Apakah sejauh ini kau sudah sedikit memahami? Sudah?! Ah, aku turut bahagia.

                Kau tahu sedikit, kau mungkin tahu segalanya. Aku lebih baik tidak usah bercerita. Ini tentang harapan yang selalu kau keluhkan itu, sekali lagi masuk dan bermainlah dengannya. Caranya sederhana, basuhlah tubuhmu dengan air, tak perlu mandi dan membuat tubuhmu kedinginan. Tidak usah! Kau hanya akan membuatku semakin khawatir bila kau terserang demam. Caranya – sekali lagi – sederhana. 

Bangunlah saat menjelang pagi. Saat dimana lampu raksasa itu belum melahap dunia. Saat dimana orang lain sedang mengorok tenang. Lalu kemudian…

Ber-wu-dhu-lah. Singkapkan sajadah, bersimpuh lirih, bila perlu menangislah. Sebut namaNya, maka harapan yang selalu kau cari itu akan kau temukan. B-E-R-D-O-A-L-A-H.

                Percayalah padaku kawan. :)

                Ah, iya. Sekarang aku akan melepas pelukanku. Apakah kau merasa lebih baik?
               
                @Iman_rk

 

© 2013 Be a Ghazi. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top