Tuesday, May 6, 2014

Izumi #9




Semburat cahaya dari ufuk timur. Juga tetesan embun yang masih bergelantungan pada daun sakura, serta awan yang kemerahan telah memeluk sejuk sesak dan desaknya aktivitas Tokyo. Aktivitas begitu cepat, semua orang berlomba menjadi nomor satu, terbaik dan terhebat. Namun ada beberapa hal yang barangkali tak diketahui banyak orang bahwa orang-orang di Jepang adalah orang yang sangat suka menolong,  rendah hati dan santun. Di tengah hiruk-pikuk dan padatnya manusia, emosi yang bisa muncul kapan saja, ditambah hidup yang kadang individualistik, disiplin serta pandang hidup yang menjunjung tinggi etos kerja ternyata tak menjamin bahwa kehidupan yang sesungguhnya dapat diraih.

Angka bunuh diri meningkat.

Telah banyak cara dilakukan. Seperti membuat banyak superhero yang katanya untuk melindungi Dunia. Gundam, Kamen Rider, Satria Baja Hitam dan semua mereka yang digambarkan memakai baju baja. Cinta keadilan dan bertujuan menumpas segala kejahatan yang ada. Namun tidak bisa menghentikan atau bahkan menurunkan depresi. Itu menggambarkan bahwa mereka pun merindukan kedamaian dalam diri mereka, merindukan dimana pekerjaan bukanlah satu-satunya yang menempati piramida tertinggi kehidupan. Mereka merindukan sesuatu yang telah lama hilang. Sekalipun negara maju, Jepang juga menduduki peringkat tertinggi yang mengalami tekanan hidup.

Sekarang adalah musim semi, Hanami – piknik dibawah bunga sakura – memadati jalan-jalan Jepang dan tempat rekreasi setempat.

Ini adalah hari terakhir liburan, batin Hiruta. Berjalan selangkah demi selangkah menuju jembatan merah yang biasa ia datangi bila ingin merenungi sesuatu. Jembatan itu memiliki pembatas yang berwarna merah. Dibawahnya mengalir sungai kecil yang mengairi batu-batu yang makin  lama makin menghijau. Pukul 06.00 pagi tapi manusia sudah berkeliaran, tertawa, berbisik, dan berlari kejar-kejaran. Hiruta hanya mengenakan jaket hitam, syal dengan corak kotak-kotak coklat melilit lehernya, celana levi’s berwarna biru ditambah dengan sepatu berwarna hitam. Hiruta berjalan sendirian, memasukkan tangan pada kantung jaket. Gaya berjalan yang biasa ia tampilkan, dan syal yang menutup bagian atas dan bawah bibirnya, sehingga yang tampak pada bagian wajahnya hanya sebagian, yaitu dahi, mata dan hidung.

Berjalan terus. Diam. Kadang melamun menatap kosong, tersadar karena anak-anak yang berlarian dan menarik ujung jaketnya untuk bersembunyi dibelakang pinggang Hiruta. Anak-anak itu tertawa. Bahagia.

Sudah tak ada lagi yang dikerjakan dirumah, semua dikerjakan oleh kak Inari, Hiruta hanya merapikan tempat tidur kemudian mandi lalu buru-buru kesini.

Disana berdiri seorang lelaki. Postur tubuhnya seperti Hiruta, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, lumayan kurus, dan memiliki rambut agak ikal kemerah-merahan. Ia tersenyum melihat kedatangan Hiruta. Memakai jaket biru dongker, celana jins hitam dan syal merah marun melingkari lehernya.

“Assalamualaykum. Kak Mikawa Izuna ?” Hiruta menyapa lebih dulu.
“Waalaykumussalam.” Laki-laki itu menjawab. Sesaat kemudian mereka berpelukan dan memegang bahu masing-masing dan tersenyum layaknya saudara.
“Sumimasen – maaf kak – tadi saya telat bangun…”
“Shalat shubuhmu bagaimana?”
“Alhamdulillah, sudah dikerjakan, meskipun agak telat.” Hiruta menyeringai.

Keduanya berbicara layaknya seorang lelaki. Bertanya mengenai perkembangan sekolah juga prestasi Hiruta yang kian meningkat  dari bulan ke bulan, bahkan baru-baru ini yang sudah terkenal se Jepang. Namun ada hal yang lebih istimewa daripada itu, yaitu sebuah hal yang mengikat keduanya bukan karena sama-sama cerdas atau sama-sama lelaki. Tapi karena keduanya adalah Muslim. Mereka satu akidah.

Hiruta sangat berbahagia bertemu dengan lelaki ini, seorang lelaki yang baru saja ia kenal. Dua hari yang lalu. Ia menghubungi Hiruta melalui handphonenya dan mengetahui nomor Handphone Hiruta melalui ponsel adiknya. Namun, meski pertama kali bertemu, Hiruta samasekali tidak menaruh curiga, sebab dihadapannya adalah seorang lelaki Muslim yang sangat cerdas, juga memiliki perangai yang bagus.

“Ku kira, tubuhmu lebih tinggi dariku, Hiruta-kun.” Kata laki-laki itu sambil memegang kepala Hiruta dan mengukurnya dengan tinggi badannya yang hampir setara. “Izumi banyak bercerita tentangmu, menanyakan padaku ini dan itu tentang Islam. Aku hanya bercerita seadanya, setidaknya yang kutahu dari pengalaman belajarku saat di Singapura.” Lanjutnya.

“Oh begitu. Izumi-san memang cerewet…” Hiruta menatap kebawah aliran sungai. “Apa Izumi sudah tahu tentang kemusliman kak Izuna?”
“Belum.”
“Kakak sembunyikan?”
“Iya. Aku tak mau dia, ayah juga ibu akan mengkhawatirkanku dan bisa jadi keluargaku akan kacau berantakan karena hal ini. Biarlah, kurasa aku lebih tenang seperti ini, Hiruta-kun.” Izuna menghela napas.
“Dilema memang.” Sahut Hiruta.
Izuna menatap Hiruta yang berada disamping kirinya. “Maksudmu?”

@Iman_rk

Izumi #8



Plek!

Hiruta menutup bukunya. Membuat suara aneh keluar dari dalam buku yang bersampul keras itu. Kurasa sudah cukup, mataku tak sanggup lagi. Batinnya.

Ia mengangkat bukunya dan meletakkannya di sudut kiri meja dan menggeser buku-buku kecil lain kemudian menyimpan buku itu dalam susunan yang paling bawah, mengingat buku itu memang besar dan lebar. Hiruta melompat bangkit, kemudian mendorong maju kursinya. Merapikan sedikit buku-buku yang terlihat bergeser dari tempat semula.

Hiruta menuruni tangga, ia memiringkan kepala ke arah samping tangga untuk memperhatikan jam dinding yang sama tinggi dengan posisi ia berdiri pada saat itu. Parah, sudah pukul 02.42 menit. Sebentar lagi akan jam 03.00. Kalau tak bisa bangun subuh, barangkali Kak Inari menyiramku seperti biasa. Keluhnya sambil berdecak pelan. Bunyi bedebam kecil saat langkah kakinya menuruni tangga membuat Ayahnya tersadar dan terbangun dari tempat tidur. Insting pelindung laki-laki memang peka.

“Mau apa tengah malam begini Hiruta-kun?” Tanya Tuan Kazuhiko yang baru saja keluar kamar akibat getaran langkah kaki Hiruta.
Moushi wake arimasen, otou-san – Maaf, Ayah.” Kata Hiruta yang barusaja terhentak karena terkejut Ayahnya menegur dari bawah. “Aku ingin turun untuk berwudhu.” Lanjut Hiruta singkat dan menuju area khusus dalam rumah untuk pengambilan air wudhu yang memang terhubung dengan ruang shalat.
“Pukul segini? Kamu berwudhu karena hendak tidur atau untuk tahajjud?” Tanya Ayahnya keheranan.
Hiruta terdiam.
“Hiruta-kun, jawab Aku.” Panggil Ayahnya untuk memastikan.
“He… Hendak tidur, Ayah.” Hiruta tertunduk, tidak berani menatap wajah Ayahnya. Ia menjawab dengan suara pelan dan terbata-bata.
“Ck!” Ayahnya berdecak keras. Lalu menutup pintu dan kembali tidur.

Untuk kesekian kalinya, Hiruta mendapat teguran dari Ayahnya karena begadang terlalu lama. Bagi Ayahnya, tak peduli apakah Hiruta membaca buku atau sedang melakukan ativitas yang lain. Sebab, sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga ini bila sudah lewat dari pukul 22.00, maka kewajiban selanjutnya adalah tidur. Sebab, bila melebihi waktu yang ditentukan maka saat shubuh akan sulit untuk dibangunkan. Ayah Hiruta betul-betul memahami.

Hiruta merasa lain malam itu. Justru penyesalan akan kebiasaan begadang hingga larut malam tidak seberapa bila dibandingkan dengan penyesalan saat ia melihat wajah Ayahnya yang entah berapa kali kecewa melihat Hiruta harus melanggar aturan rumah. Ya, ia tahu, bahwa satu jam lagi akan dilaksanakan shalat shubuh dan Hiruta akan menyanggupi dan memaksakan diri untuk bangun, namun Ayahnya jauh lebih khwatir pada kondisi kesehatannya.

Dulu, saat Hiruta masih kelas satu SMA. Hiruta pernah mengalami pusing dan tiba-tiba pingsan disekolah, dan faktor utamanya adalah darah Hiruta menurun drastis akibat begadang. Lalu orangtua siswa dipanggil untuk menghadap lalu diberitahu apa yang menyebabkan Hiruta tiba-tiba pingsan. Dan saat itu wajah Ayah sangat berbeda, panik, marah, kecewa, sedih, melihat Hiruta. Meski efek yang ditimbulkan tidak seberapa, namun rasa sayang Ayah pada Hiruta meruntuhkan logika Hiruta yang masih dapat menyanggah akan aturan tidur tepat waktu.

Hiruta berjalan terhuyung ke lokasi tempat pengambilan air wudhu yang bersebelahan dengan ruang shalat.

Hiruta kembali ke kamar, berdzikir lalu kemudian memejamkan mata. Mati untuk sesaat dan berharap bertemu dengan kekasih tercinta, kekasih seluruh kaum mukmin dan kekasih Allah. 

Muhammad saw…

@Iman_rk

Izumi #7



Sudah empat jam lebih. Ia masih duduk disana dengan punggung yang tak berubah, masih tetap tegak sebagaimana biasanya. Ia menyapu huruf demi huruf dan tulisan demi tulisan, tak ia hiraukan berapa lama lagi waktu akan berlalu, meskipun sudah ketiga kalinya kepalanya jatuh karena harus berperang dengan rasa kantuk. Tapi ia harus menahannya. Beberapa lembar lagi… beberapa lembar lagi…

Kisah sejarah dan penaklukan serta cerita Heroic adalah buku yang paling membuat Hiruta jatuh cinta. Dalam kamarnya, ia mengoleksi buku yang memuat kisah perang dan penaklukan hingga puluhan. Mungkin  sekitar 42 buku. Pahlawan serta ksatria Islam seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Khalid Bin Walid, Umar bin Khattab, Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih dan sebagainya. Juga legenda sejarah penakluk Jepang, para samurai  dan beberapa tokohnya yang legendaris seperti Nobunaga Oda, Tokugawa Ieyasu, Miyamoto Mushasi dan juga Taira no Masakado sampai Toyotomi Hideyoshi.


Letak meja diatasnya disambung dengan rak-rak buku memudahkan Hiruta meraih buku-bukunya. Meja yang berukuran dengan panjang sekitar 50 cm dan lebar sekitar 1 meter. Ukuran yang sesuai untuk meletakkan buku dan berhadap-hadapan dengan wajah haus Hiruta yang siap meminum apapun tulisan yang ada didepannya. Posisi meja yang sebelah kanannya berdempetan dengan tembok, memudahkan Hiruta untuk meletakkan gambar dan fotonya ketika ia masih kecil. Didalam foto itu ada anak laki-laki yang berambut acak-acakan dengan senyum yang menunjukkan seri yang pada saat itu telah tanggal sekitar 2 biji dari gusi, tidak lain adalah Hiruta sendiri. Lalu disamping kiri Hiruta ada seorang wanita cantik dengan balutan kain berwarna hijau lumut yang menutup kepala, tentu saja Kak Inari serta satu laki-laki remaja yang saat ini masih berada diluar negeri.

Sesekali, ketika Hiruta meletakkan bukunya untuk dibaca lagi esok harinya, Hiruta tetap menyempatkan diri untuk menatap dan tersenyum melihat gambar dalam foto itu. Dengan mata yang berbinar-binar, ia menekan gambar dalam foto itu dengan jempol dan mengusapnya perlahan ke atas dan kebawah. Membuat ia semakin belajar dengan keras dan lebih giat lagi, tatkala ia menatap wajah anak lelaki remaja yang ada dalam foto itu. Laki-laki yang Hiruta rasa sebagai dinding yang harus ia lewati. Laki-laki itu sekarang sudah dewasa, melanjutkan studinya ke luar Negeri, membuat bangga Ayah dan Ibu serta semua keluarga. Hiruta ingin sekali beretemu dengannya lagi, memintanya bercerita tentang Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstatinopel. Bagi Hiruta, gaya khas ketika laki-laki itu bercerita membuat Hiruta merasa ada dalam cerita itu. Meskipun sudah berkali-kali diceritakan namun Hiruta memintanya lagi dan lagi. Lalu, laki-laki itu akan menceritakannaya pula dengan senang hati dan dengan sukacita.

Namun laki-laki itu sudah berpisah dengannya selama empat tahun. Ia pergi dengan senyuman yang meyakinkan bahwa ia akan pulang dengan nilai yang bagus dan akan bekerja di Jepang sebagai dokter ahli bedah. Hiruta saat itu hanya bisa mengantarnya sampai bandara saja.

“Apapun yang terjadi, Islam ada dalam genggamanmu brother. Jangan pernah takut bersaing karena kita adalah umat terbaik. Bismillah.” Sambil mengacak rambut Hiruta, itulah pesan terakhir yang disampaikan oleh laki-laki itu pada Hiruta saat berpisah. Kalimat yang tak terlupakan, sebab itu bukan hanya pesan motivasi laki-laki itu. Namun, itu adalah pesan abadi yang dikutip dari dalam Alquran.

“Kamu adalah Umat terbaik yang diutus ketengah-tengah manusia
Menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar
Dan beriman pada Allah”[Ali-Imran: 110]

Semoga suka :) @Iman_rk

 

© 2013 Be a Ghazi. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top